Tren jajanan kekinian Tteokbokki dari Korea masih menjadi salah satu warna yang kuat di industri kuliner Indonesia. Makanan dengan saus merah mengilap, keju mozzarella yang meleleh, adonan renyah, serta penyajian dalam mangkuk kecil semakin mudah ditemukan di pusat perbelanjaan, kawasan kampus, bazar kuliner hingga kedai pinggir jalan. Kehadirannya tidak hanya menarik penggemar budaya Korea, tetapi juga konsumen yang sekadar ingin mencoba makanan dengan rasa dan tampilan berbeda.
Popularitas tersebut memiliki dasar yang cukup kuat. Survei Overseas Hallyu Survey yang dirilis Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata Korea Selatan pada 2025 menunjukkan tingkat kesukaan terhadap Hallyu di Indonesia mencapai 86,5 persen, salah satu yang tertinggi dari negara yang disurvei. Dalam survei yang sama, makanan menjadi kategori budaya Korea yang paling banyak dinilai telah mencapai popularitas arus utama secara global, yakni 53,7 persen.
Besarnya paparan budaya Korea juga masih terlihat pada 2026. Survei citra Korea yang dirilis pemerintah Korea Selatan pada Januari 2026 mencatat sebanyak 59,5 persen responden Indonesia menyebut konten budaya sebagai faktor yang memengaruhi pandangan positif mereka terhadap Korea Selatan. Kondisi tersebut ikut membuka jalan bagi makanan Korea untuk terus berkembang dari restoran menjadi jajanan dengan harga yang lebih mudah dijangkau.
Tteokbokki Tetap Menjadi Wajah Utama Jajanan Korea
Sulit membicarakan tren jajanan Korea tanpa menempatkan tteokbokki sebagai salah satu menu utama. Hidangan berbahan dasar tteok atau kue beras ini memiliki tekstur kenyal dan umumnya dimasak bersama saus gochujang yang memberi warna merah pekat sekaligus perpaduan rasa pedas, manis dan gurih.
Di Indonesia, tteokbokki berkembang dalam berbagai variasi. Penjual tidak lagi hanya menawarkan tteok dengan saus merah. Topping seperti fish cake, telur rebus, odeng, keju mozzarella, dumpling, sosis sampai mi instan banyak ditambahkan agar porsinya terasa lebih lengkap.
Model penyajian juga berubah. Jika dahulu tteokbokki lebih sering ditemui di restoran Korea, kini porsinya dibuat lebih kecil sehingga cocok dijadikan camilan. Gelas kertas, mangkuk kecil dan kemasan tertutup membuat makanan ini semakin mudah dijual melalui gerai kecil maupun layanan pengantaran.
Popularitas tteokbokki bersama corn dog, kimbap dan sejumlah jajanan Korea lainnya juga terlihat dari semakin banyaknya pelaku industri makanan yang memasukkannya sebagai inspirasi usaha kuliner di Indonesia.
Saus Menjadi Ruang Kreasi Pedagang
Kekuatan tteokbokki berada pada sausnya. Karena itu, pelaku usaha mempunyai ruang cukup besar untuk membuat rasa yang disesuaikan dengan lidah konsumen Indonesia.
Selain saus gochujang klasik, beberapa penjual menawarkan saus creamy, rose tteokbokki, saus keju dan versi dengan tingkat kepedasan berbeda. Cara tersebut memungkinkan satu bahan utama digunakan untuk menghasilkan beberapa pilihan menu.
Konsumen Indonesia yang terbiasa dengan makanan pedas juga membuat tteokbokki relatif mudah diterima. Tingkat pedas dapat dibuat mulai dari ringan hingga sangat pedas tanpa menghilangkan karakter utama sausnya.
Korean Corn Dog Masih Kuat Berkat Keju dan Tekstur Renyah
Korean corn dog menjadi jajanan lain yang terus bertahan setelah gelombang makanan Korea mulai berkembang di Indonesia. Berbeda dengan corn dog biasa, versi Korea banyak menggunakan lapisan adonan yang lebih tebal dengan beragam tambahan di bagian luar.
Potongan kentang, tepung roti dan lapisan gula menjadi beberapa ciri yang sering ditemukan. Bagian dalamnya dapat berisi sosis, mozzarella atau kombinasi keduanya. Ketika dibelah atau digigit saat masih hangat, tarikan mozzarella menjadi daya tarik visual yang kuat.
Variasi tersebut membuat Korean corn dog cocok dengan budaya kuliner media sosial. Makanan tidak hanya dinilai dari rasa, tetapi juga dari tampilannya ketika direkam menggunakan kamera ponsel.
Saat ini kreasi corn dog juga semakin lebar. Ada versi dengan balutan mi, kentang, keju, saus pedas Korea hingga isian yang disesuaikan dengan selera masyarakat setempat. Inspirasi usaha makanan Korea yang beredar di industri kuliner Indonesia juga masih menempatkan corn dog sebagai salah satu produk yang mudah dikembangkan menjadi menu jualan.
Menurut penulis, keberhasilan Korean corn dog bertahan cukup lama berkaitan dengan kemampuannya berubah. Konsumen dapat mengenali bentuk dasarnya dengan mudah, tetapi penjual tetap mempunyai banyak pilihan untuk menghadirkan rasa, topping dan tampilan baru.
Hotteok Mulai Mendapat Perhatian Lebih Besar
Jajanan Korea tidak selalu identik dengan saus pedas. Hotteok menawarkan karakter yang sangat berbeda karena berbentuk pancake dengan isian manis. Versi tradisional biasanya menggunakan campuran gula merah atau brown sugar, kayu manis serta kacang.
Adonan dimasak di atas permukaan panas hingga bagian luarnya kecokelatan, sedangkan gula di dalamnya berubah menjadi cairan manis. Kombinasi tekstur sedikit renyah pada bagian luar dan lembut di bagian tengah membuat hotteok menarik untuk dikembangkan di pasar Indonesia.
Nama hotteok bahkan mendapatkan perhatian internasional yang lebih besar pada 2026. Kolaborasi Oreo dengan BTS menggunakan inspirasi rasa hotteok untuk produk edisi terbatas yang dipasarkan secara global. Pemilihan tersebut menunjukkan bahwa hotteok mulai diperkenalkan kepada konsumen yang jauh lebih luas di luar Korea Selatan.
Untuk penjual jajanan, hotteok dapat dikembangkan menggunakan beragam isian. Cokelat, kacang, keju, selai hingga kombinasi gula kayu manis dapat digunakan sehingga pembeli mempunyai pilihan rasa tanpa mengubah karakter adonan utamanya.
Bungeoppang Punya Bentuk yang Mudah Menarik Perhatian
Bungeoppang merupakan jajanan berbentuk ikan yang mudah dikenali dari tampilannya. Adonannya dimasak menggunakan cetakan khusus dengan bagian dalam yang biasanya diisi pasta kacang merah.
Bagi pasar Indonesia, isian tersebut dapat menjadi titik kreasi. Penjual dapat menyediakan pilihan cokelat, custard, keju, matcha atau kombinasi krim lainnya untuk konsumen yang belum terbiasa dengan pasta kacang merah.
Bentuk ikan memberi keunggulan dari sisi visual. Produk dapat terlihat menarik bahkan sebelum diberi dekorasi tambahan. Hal tersebut penting bagi usaha jajanan yang mengandalkan etalase, bazar dan unggahan media sosial untuk menarik calon pembeli.
Bungeoppang juga dapat dijual dalam ukuran mini. Model tersebut memungkinkan konsumen membeli satu porsi berisi beberapa buah dengan isian berbeda sehingga pengalaman menyantapnya terasa lebih beragam.
Dakgangjeong Membawa Ayam Korea ke Ukuran Jajanan
Ayam goreng ala Korea telah lama mendapatkan tempat di Indonesia. Namun, bentuk ayam potongan besar bukan satu satunya cara menikmati menu tersebut. Dakgangjeong menawarkan potongan ayam berukuran lebih kecil dengan lapisan saus manis dan pedas.
Ukuran yang kecil membuat dakgangjeong cocok dijual menggunakan cup. Konsumen dapat menikmatinya menggunakan tusukan kecil tanpa harus membeli satu porsi besar ayam goreng.
Saus menjadi bagian yang paling menentukan. Selain pilihan manis pedas, penjual dapat menyediakan saus bawang, madu, keju sampai tingkat pedas yang berbeda. Taburan wijen dan irisan daun bawang dapat digunakan untuk mempertahankan tampilan khas Korea.
Tren street food Korea yang berkembang pada 2025 juga memperlihatkan dakgangjeong sebagai salah satu menu yang mendapatkan perhatian konsumen muda. Variasi saus menjadi salah satu cara penjual membangun pilihan produk yang lebih luas.
Eomuk Cocok untuk Konsumen yang Menyukai Jajanan Berkuah
Tidak semua jajanan harus digoreng. Eomuk atau fish cake menawarkan pengalaman berbeda karena dapat disajikan menggunakan tusukan bersama kuah hangat.
Di Korea Selatan, makanan ini sangat lekat dengan kios jajanan. Bentuk lembaran fish cake dilipat pada tusukan panjang kemudian disajikan dengan kuah gurih.
Untuk pasar Indonesia, konsep tersebut cukup mudah dipahami karena masyarakat telah mengenal berbagai makanan tusuk dan makanan berkuah. Perbedaannya terletak pada bumbu serta penyajian khas Korea.
Eomuk juga dapat dipasangkan dengan tteokbokki dalam satu gerai. Bahan fish cake bahkan dapat digunakan sebagai topping tteokbokki sehingga penjual tidak harus menyediakan terlalu banyak jenis bahan baku.
Saat musim hujan atau ketika dijual pada malam hari, kuah hangat menjadi karakter yang dapat membedakannya dari corn dog dan makanan goreng lainnya.
Mandu Semakin Mudah Masuk ke Menu Jajanan Kekinian
Mandu merupakan dumpling Korea yang dapat dimasak dengan berbagai teknik. Ada yang dikukus, direbus sampai digoreng hingga bagian permukaannya kecokelatan.
Isiannya juga cukup fleksibel. Daging ayam, daging sapi, sayuran, kimchi dan campuran bihun dapat digunakan sesuai jenis produk yang ingin ditawarkan.
Bagi usaha jajanan, fried mandu memiliki keuntungan karena mudah dipadukan dengan saus. Saus gochujang, mayonnaise pedas atau saus bawang dapat digunakan sebagai pelengkap.
Ukuran mandu juga sesuai untuk sistem penjualan per porsi. Pembeli dapat memilih empat, enam atau delapan buah sesuai kebutuhan. Model seperti ini memungkinkan harga masuk dibuat lebih terjangkau, terutama jika sasaran utama berada di kawasan sekolah, kampus dan pusat keramaian.
Gimbap Mini Mengubah Makanan Korea Menjadi Camilan Ringan
Gimbap biasanya disajikan sebagai gulungan nasi berisi sayuran, telur, daging dan bahan lain yang dibungkus rumput laut. Akan tetapi, bentuk mini membuatnya dapat diposisikan sebagai jajanan.
Mini gimbap memiliki diameter lebih kecil dan dapat disajikan dalam beberapa potongan. Isian sederhana seperti telur, wortel, timun serta ayam dapat digunakan agar biaya bahan tetap terkendali.
Popularitas gimbap juga terus terbantu oleh paparan budaya Korea secara global. Laporan tren Hallyu yang dirilis pemerintah Korea Selatan pada Februari 2026 mencatat makanan Korea mendapatkan sorotan luas melalui berbagai tayangan internasional, termasuk kemunculan gimbap dan ramyeon dalam konten populer.
Bagi konsumen Indonesia, keberadaan nasi membuat gimbap terasa lebih dekat dibanding sejumlah jajanan berbahan yang benar benar asing. Penjual kemudian dapat melakukan penyesuaian pada isi tanpa menghilangkan ciri utama berupa nasi dan rumput laut.
Korean Garlic Cheese Bread Masih Menarik untuk Gerai Roti
Gelombang makanan Korea juga membawa Korean garlic cheese bread ke banyak gerai roti. Produk tersebut menggunakan roti bundar yang dibelah menjadi beberapa bagian, diisi krim keju kemudian dilapisi campuran bawang putih sebelum dipanggang.
Karakter rasanya cukup kuat karena memadukan gurih, creamy dan sedikit manis. Tekstur roti yang lembut juga membuatnya mudah diterima konsumen yang sudah terbiasa dengan produk bakery.
Bagi penjual, tampilannya dapat dibuat dalam berbagai ukuran. Versi besar cocok untuk dinikmati sendiri, sedangkan versi mini dapat dipasarkan sebagai snack box atau paket beberapa rasa.
Krim kejunya juga dapat dikembangkan dengan tambahan mozzarella, smoked beef, ayam atau saus pedas. Dengan begitu, satu jenis adonan dapat menghasilkan beberapa menu.
Croffle ala Korea Bertahan karena Mudah Dipadukan dengan Topping
Croffle sebenarnya merupakan perpaduan croissant dan waffle yang kemudian sangat populer di Korea Selatan sebelum menyebar ke berbagai negara. Adonan croissant ditekan menggunakan cetakan waffle sehingga menghasilkan permukaan garing dengan lapisan bagian dalam yang tetap lembut.
Di Indonesia, croffle sempat berkembang sangat cepat dan sampai sekarang masih ditemukan di berbagai kafe maupun gerai makanan ringan. Keunggulannya berada pada fleksibilitas topping.
Gula halus, madu, cokelat, matcha, es krim, cream cheese dan buah dapat digunakan untuk menghasilkan variasi berbeda. Penjual juga dapat menghadirkan versi gurih dengan keju atau daging.
Croffle menjadi contoh bahwa tren jajanan inspirasi Korea tidak selalu harus berupa makanan tradisional Korea. Sebuah makanan dapat memperoleh identitas baru setelah berkembang melalui budaya kafe dan media sosial Korea kemudian diadaptasi kembali oleh pasar Indonesia.
Ramyeon Cup Membawa Sensasi Kedai Korea dengan Modal Ruang Lebih Kecil
Popularitas ramyeon membuka konsep usaha yang berbeda dari jajanan goreng. Beberapa gerai menjual mi Korea menggunakan konsep self service atau menyediakan berbagai merek mi instan yang dapat dimasak langsung di lokasi.
Pembeli kemudian dapat menambahkan topping berupa telur, fish cake, keju, dumpling, rumput laut atau potongan ayam.
Laporan pemerintah Korea Selatan mengenai tren Hallyu sepanjang 2025 juga menempatkan ramyeon bersama kimchi dan bibimbap sebagai sejumlah kata yang banyak muncul ketika makanan Korea dibicarakan secara internasional.
Konsep ramyeon cup menarik karena memberikan pengalaman memilih bahan sendiri. Pembeli tidak hanya membeli mi, tetapi juga menentukan kombinasi topping sesuai selera dan anggaran.
Rasa Lokal Membuat Jajanan Korea Lebih Dekat dengan Pembeli Indonesia
Menjual makanan inspirasi Korea di Indonesia tidak berarti seluruh resep harus disalin tanpa penyesuaian. Karakter konsumen lokal dapat menjadi bagian dari pengembangan produk.
Tingkat kepedasan merupakan contoh paling mudah. Penjual dapat menyediakan beberapa level sehingga konsumen yang tidak kuat pedas tetap dapat menikmati tteokbokki atau ayam saus Korea.
Bahan tertentu juga dapat diganti selama ciri utama makanan tetap dipertahankan. Daging ayam dapat menjadi pilihan isi mandu dan gimbap, sedangkan saus pedas dapat dibuat dengan karakter yang sedikit lebih kuat untuk konsumen Indonesia.
Aspek halal juga penting diperhatikan apabila produk menyasar pasar Muslim. Pemilihan daging, saus, bumbu, keju dan bahan olahan perlu diperiksa agar konsumen mendapatkan informasi yang jelas mengenai produk yang mereka beli.
Menurut penulis, ruang terbesar bagi jajanan Korea di Indonesia justru berada pada pertemuan antara ciri khas Korea dan kebiasaan makan masyarakat lokal. Produk yang terlalu jauh dari selera pembeli berisiko sulit bertahan, sementara adaptasi yang berlebihan dapat menghilangkan identitas makanan tersebut.
Peluang Usaha Jajanan Korea Tidak Harus Dimulai dari Gerai Besar
Besarnya ketertarikan terhadap budaya Korea membuat jajanan bertema Korea tetap memiliki ruang di pasar kuliner. Survei resmi Korea Selatan menunjukkan makanan memiliki niat pembelian tertinggi di antara produk Korea yang ditanyakan kepada responden global, dengan angka 66,2 persen pada survei yang dirilis 2025.
Bagi pelaku usaha kecil, konsepnya dapat dimulai dengan pilihan menu terbatas. Tteokbokki dan eomuk dapat menggunakan sebagian bahan yang sama. Corn dog dan mandu dapat berbagi beberapa jenis saus. Dakgangjeong juga dapat menggunakan saus pedas yang dikembangkan dari bahan dasar serupa.
Strategi tersebut membuat jumlah bahan yang harus disimpan tidak terlalu banyak. Setelah pembeli mulai terbentuk, variasi baru dapat ditambahkan secara bertahap.
Paket kombinasi juga menjadi pilihan menarik. Satu paket dapat berisi tteokbokki, dua mandu dan satu minuman. Paket lain dapat menggabungkan corn dog dengan dakgangjeong. Konsumen mendapat kesempatan mencoba beberapa makanan dalam satu transaksi, sedangkan penjual mempunyai ruang untuk meningkatkan nilai pembelian.
Kemasan menjadi bagian lain yang perlu diperhatikan. Cup yang nyaman dipegang, mangkuk dengan tutup rapat dan kotak kecil untuk makanan goreng membuat jajanan lebih mudah dibawa. Tampilan kemasan juga dapat dirancang sederhana tetapi tetap mudah dikenali ketika muncul dalam foto atau video.
Harga Terjangkau Menjadi Kunci agar Tren Tidak Hanya Berputar di Kafe
Jajanan pada dasarnya bersaing dengan banyak pilihan makanan lain yang sudah dikenal masyarakat. Karena itu, harga menjadi salah satu faktor penting ketika produk Korea dibawa ke pasar yang lebih luas.
Porsi mini dapat menjadi solusi. Pembeli yang baru pertama mencoba mungkin belum ingin membeli satu porsi tteokbokki dalam ukuran besar. Cup kecil memberi kesempatan mencicipi dengan biaya lebih rendah.
Konsep serupa dapat diterapkan pada hotteok mini, bungeoppang mini, mandu isi empat buah atau gimbap dalam porsi kecil. Setelah konsumen mengenal rasanya, penjual dapat menyediakan ukuran reguler maupun paket berbagi.
Variasi harga juga membuka peluang menjangkau beberapa kelompok konsumen sekaligus. Menu sederhana dapat menjadi produk pembuka, sementara topping mozzarella, daging tambahan, telur dan berbagai saus ditempatkan sebagai tambahan berbayar.
Dengan pola tersebut, tren jajanan kekinian inspirasi dari Korea dapat terus berkembang dalam bentuk yang semakin beragam. Tteokbokki dan corn dog tetap menjadi produk yang paling mudah dikenali, sementara hotteok, bungeoppang, mandu, dakgangjeong, eomuk dan mini gimbap memberi ruang bagi pelaku kuliner untuk menawarkan pilihan yang tidak selalu sama dengan gerai lain.


Comment