Bisnis
Home / Bisnis / Saat Publikasi Ilmiah Jadi Ladang Bisnis, Integritas Akademik Dipertaruhkan

Saat Publikasi Ilmiah Jadi Ladang Bisnis, Integritas Akademik Dipertaruhkan

Publikasi

Saat Publikasi Ilmiah Jadi Ladang Bisnis, Integritas Akademik Dipertaruhkan Publikasi ilmiah seharusnya menjadi tahap ketika hasil penelitian diuji, dikritik, lalu dibagikan kepada masyarakat akademik. Artikel tidak cukup hanya ditulis dengan rapi. Metode penelitian harus dapat dipertanggungjawabkan, data harus tersedia sesuai kebutuhan pengujian, sedangkan kesimpulan harus melewati pemeriksaan editor dan penelaah sejawat.

Namun, kebutuhan menerbitkan artikel semakin besar ketika publikasi juga digunakan untuk kelulusan, kenaikan jabatan, penilaian kinerja, akreditasi, peringkat universitas, pencarian dana penelitian, hingga reputasi seorang akademisi. Pertemuan antara kebutuhan penerbitan yang tinggi dan terbatasnya ruang jurnal berkualitas kemudian menciptakan pasar yang bernilai besar.

Industri penerbitan ilmiah pada dasarnya bukan sesuatu yang keliru. Proses editorial memerlukan tenaga, teknologi, pengarsipan, pengecekan, penyuntingan, dan pengelolaan situs. Persoalan muncul ketika keinginan menerbitkan karya dengan cepat dimanfaatkan oleh pihak yang menjual kepastian terbit tanpa menjaga proses ilmiah.

Fenomena itu semakin mendapat perhatian setelah berbagai penerbit besar menarik kembali ribuan artikel akibat manipulasi penelaahan, persoalan kepengarangan, gambar yang digunakan kembali, serta dugaan keterlibatan paper mill. Sebuah penelitian di Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2025 bahkan menyebut organisasi yang mendukung kecurangan ilmiah telah berkembang menjadi jaringan besar yang mampu menghasilkan penelitian bermasalah dalam skala tinggi.

Publikasi Berubah Menjadi Ukuran Karier Akademik

Tekanan untuk menerbitkan artikel tidak muncul tanpa sebab. Perguruan tinggi perlu menunjukkan kegiatan penelitian, sedangkan dosen dituntut menghasilkan karya yang dapat dinilai serta digunakan oleh komunitas keilmuan.

Bisnis Jastip Indonesia ke Luar Negeri, Peluang Jual Produk Lokal ke Pasar Global

Di Indonesia, publikasi juga mempunyai hubungan erat dengan berbagai indikator akademik. SINTA mencatat artikel, sitasi, indeks penulis, serta keluaran penelitian. Dalam pengajuan jabatan akademik, artikel dan rekam jejak jurnal menjadi bagian yang harus diverifikasi.

Salah satu contoh kebijakan yang menunjukkan kuatnya posisi publikasi adalah program One Lecturer One Scopus di Universitas Negeri Surabaya. Peraturan rektor yang berlaku sejak Januari 2025 mewajibkan dosen menghasilkan sedikitnya satu artikel per tahun pada jurnal atau prosiding yang terindeks Scopus. Aturan itu juga mengatur pembiayaan, insentif, dan sanksi bagi dosen yang tidak memenuhi sasaran publikasi.

Kebijakan seperti ini dapat mendorong produktivitas apabila dibarengi pembiayaan penelitian, pendampingan, laboratorium, akses data, kemampuan bahasa akademik, serta waktu yang cukup untuk melakukan penelitian.

Masalah mulai muncul apabila jumlah artikel menjadi sasaran utama sementara kualitas penelitian memperoleh perhatian lebih kecil. Dosen dapat berada dalam keadaan harus memilih antara proses penelitian panjang yang belum tentu segera diterima jurnal atau mencari saluran penerbitan yang menjanjikan proses lebih cepat.

Menurut penulis, persoalannya bukan pada kewajiban menghasilkan karya ilmiah, tetapi ketika angka publikasi lebih mudah dihitung dan dihargai dibandingkan mutu pertanyaan penelitian serta keandalan datanya.

Bisnis Jual Properti, Cara Mencari Objek dan Mengubahnya Menjadi Penjualan

Uang dalam Publikasi Tidak Selalu Berarti Jurnal Predator

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa jurnal berbayar otomatis merupakan jurnal predator. Pernyataan tersebut tidak tepat karena banyak jurnal bereputasi menerapkan Article Processing Charge atau APC secara terbuka.

Dalam model open access, artikel dapat dibaca siapa saja tanpa biaya berlangganan. Biaya penerbitan kemudian dapat dibebankan kepada penulis, universitas, lembaga penelitian, atau pemberi dana.

Springer Nature menjelaskan APC digunakan untuk membiayai berbagai tahap penerbitan, mulai dari administrasi penelaahan, penyuntingan, hingga penyimpanan artikel pada server. Beberapa institusi mempunyai perjanjian dengan penerbit sehingga penulis tidak perlu membayar seluruh biaya sendiri.

Biayanya dapat sangat tinggi. Nature, misalnya, pada 2026 mencantumkan APC untuk pilihan Gold Open Access sebesar 12.850 dolar AS. Penulis juga tetap dapat memilih jalur berlangganan untuk artikel penelitian tertentu tanpa membayar APC open access.

Angka tinggi tersebut memperlihatkan bahwa penerbitan ilmiah memang memiliki sisi ekonomi. Akan tetapi, pembayaran dilakukan setelah artikel diterima melalui prosedur editorial yang ditetapkan, bukan sebagai jaminan bahwa naskah pasti diterbitkan.

Bisnis Coffee Shop Gen Z, Menjual Kopi Sekaligus Pengalaman yang Ingin Diulang

Perbedaan inilah yang penting. Jurnal berkualitas dapat mengenakan biaya sambil tetap menolak artikel. Jurnal predator justru memperoleh keuntungan ketika sebanyak mungkin artikel diterima.

Jurnal Predator Menjual Kecepatan dan Kepastian Terbit

Jurnal predator memanfaatkan kebutuhan akademisi untuk memperoleh publikasi. Mereka membangun situs yang terlihat seperti jurnal ilmiah, memasang nama editor, mengaku mempunyai indeks internasional, lalu mengirim undangan kepada peneliti melalui surat elektronik.

Tawaran yang diberikan sering menarik. Artikel disebut dapat diperiksa dalam beberapa hari, revisi sangat ringan, bahkan tanggal penerbitan sudah dijanjikan sebelum editor mengetahui mutu penelitian.

FEB Universitas Indonesia pada Februari 2026 mengadakan pelatihan khusus mengenai pemilihan jurnal bereputasi dan cara menghindari jurnal predator. Guru Besar FEB UI Djoni Hartono mengingatkan beberapa cirinya, antara lain proses pemeriksaan terlalu cepat, cakupan bidang sangat luas, serta klaim indeksasi yang tidak jelas.

Penulis juga diminta tidak hanya mengejar kuartil. Kesesuaian topik dengan bidang jurnal, artikel terbaru yang diterbitkan, reputasi pengelola, lama pemeriksaan, serta status pada basis data pengindeks perlu diperiksa.

Pengetahuan tersebut menjadi semakin penting karena situs jurnal predator kini dapat dibuat menyerupai penerbit profesional. Desain halaman yang rapi tidak menjamin adanya penelaahan sejawat yang benar.

Paper Mill Membawa Bisnis Publikasi ke Tingkat yang Lebih Serius

Jurnal predator bukan satu satunya persoalan. Industri lain tumbuh melalui paper mill, yaitu pihak yang memproduksi atau memperdagangkan artikel ilmiah untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Layanan yang ditawarkan dapat beragam. Ada pihak yang menulis manuskrip, membuat atau memanipulasi data, mencari jurnal sasaran, mengurus korespondensi, menjual posisi nama penulis, hingga membantu melewati proses penelaahan.

Penelitian PNAS yang diterbitkan pada Agustus 2025 menemukan jaringan kecurangan tidak hanya bekerja melalui produksi naskah palsu. Ada broker yang mempertemukan penulis dengan jurnal tertentu serta jaringan editor dan pihak lain yang membantu artikel melewati mekanisme pengawasan.

Salah satu jaringan yang diteliti pernah menawarkan layanan konferensi, penerbitan jurnal, serta penulisan tesis dan artikel. Daftar saluran publikasinya berkembang dari 14 jurnal pada Januari 2018 menjadi 86 jurnal pada Maret 2024. Dari keseluruhan 188 jurnal yang pernah ditawarkan, lebih dari separuh tercatat pernah terindeks Scopus.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa melihat logo Scopus saja tidak cukup. Status indeks dapat berubah dan sebuah jurnal yang sebelumnya baik dapat mengalami penurunan tata kelola.

Jurnal Sah Juga Bisa Direbut Jaringan Bermasalah

Persoalan menjadi lebih sulit ketika pihak yang mengejar keuntungan tidak membuat jurnal baru, tetapi mengambil alih jurnal yang sebelumnya mempunyai reputasi baik.

Nature pada April 2025 melaporkan fenomena yang disebut journal snatchers. Sejumlah perusahaan kecil membeli jurnal yang telah lama berjalan, kemudian meningkatkan jumlah artikel dan biaya setelah pengambilalihan. Pengamat integritas penelitian menemukan perubahan tersebut dapat mengubah jurnal yang sebelumnya sah menjadi saluran penerbitan dengan pengawasan jauh lebih lemah.

Situasi ini dapat menjebak penulis. Ketika memilih jurnal berdasarkan reputasi beberapa tahun sebelumnya, mereka mungkin tidak mengetahui bahwa pemilik, editor, atau cara kerja penerbitannya telah berubah.

Karena itu, pemeriksaan sebaiknya dilakukan pada saat akan mengirim artikel, bukan berdasarkan pengalaman rekan yang pernah menerbitkan karya di tempat yang sama bertahun tahun sebelumnya.

Ribuan Artikel Harus Ditarik Setelah Terbit

Besarnya persoalan dapat terlihat dari jumlah artikel yang belakangan ditarik kembali. Retraction merupakan tindakan mencabut artikel dari literatur ilmiah ketika ditemukan masalah serius sehingga hasilnya tidak lagi dapat dipercaya atau proses penerbitannya dianggap tidak sah.

Pada 2025, Sage menyelesaikan penarikan lebih dari 1.500 artikel dari Journal of Intelligent and Fuzzy Systems setelah penyelidikan menemukan persoalan mengenai penelaahan, manipulasi sitasi, serta tanda aktivitas paper mill.

Masalah serupa masih terjadi pada 2026. International Journal of Biological Macromolecules milik Elsevier menarik sekitar 120 artikel setelah ditemukan manipulasi terkoordinasi terhadap proses penelaahan pada edisi khusus. Penerbit juga menemukan persoalan lain seperti plagiarisme, duplikasi gambar, serta kepengarangan.

Ceramics International pada tahun yang sama telah menarik puluhan artikel karena persoalan integritas data, penggunaan gambar yang tumpang tindih, serta perubahan nama penulis yang dinilai mencurigakan.

Retraction bukan sekadar persoalan reputasi seorang penulis. Artikel yang sudah terbit dapat lebih dahulu dikutip oleh peneliti lain. Jika isinya digunakan sebagai dasar penelitian, kesalahan tersebut dapat menyebar ke pekerjaan berikutnya.

Dalam bidang kesehatan, persoalannya lebih serius karena penelitian dapat digunakan untuk memilih arah riset obat, menentukan desain percobaan, atau menjadi bagian dari tinjauan ilmiah.

Bisnis Kepengarangan Menciptakan Pasar Nama Penulis

Nama seorang penulis dalam artikel ilmiah menunjukkan tanggung jawab terhadap penelitian. Penulis seharusnya memiliki kontribusi yang dapat dijelaskan, memahami pekerjaan yang dilakukan, serta bersedia bertanggung jawab atas bagian yang menjadi tugasnya.

Paper mill mengubah prinsip tersebut menjadi komoditas. Posisi penulis dapat ditawarkan kepada pihak yang membutuhkan artikel untuk kepentingan akademik meskipun tidak terlibat dalam penelitian sejak awal.

Gejalanya dapat terlihat ketika nama penulis berubah setelah artikel diterima, penulis berasal dari bidang yang tidak berkaitan, atau sebuah kelompok menghasilkan artikel dengan kecepatan yang sulit dijelaskan oleh proses penelitian biasa.

Retraction Watch pada 2026 melaporkan kasus jaringan penelitian yang menggunakan WhatsApp dan melibatkan hampir 1.000 anggota untuk menghasilkan abstrak konferensi serta artikel secara cepat. Sejumlah manuskrip kemudian ditarik setelah muncul kekhawatiran mengenai integritas dan dugaan keterlibatan jaringan paper mill.

Penjualan nama merusak fungsi kepengarangan. Publik tidak lagi dapat mengetahui siapa yang benar benar merancang penelitian, mengambil data, melakukan analisis, atau menulis artikel.

Insentif yang Salah Bisa Mengarahkan Perilaku Akademisi

Institusi pendidikan mempunyai alasan kuat memberikan insentif publikasi. Peneliti membutuhkan biaya untuk laboratorium, perangkat lunak, perjalanan lapangan, penerjemahan, serta penerbitan.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga memiliki program untuk meningkatkan mutu jurnal Indonesia. Program insentif 2025 memberikan dukungan kepada jurnal internasional bereputasi yang mengalami peningkatan kuartil, SJR, atau Journal Impact Factor, serta jurnal nasional yang naik ke peringkat SINTA lebih tinggi.

Insentif tersebut diarahkan kepada peningkatan mutu pengelolaan jurnal. Namun, pada tingkat individu, sistem penilaian tetap perlu berhati hati agar akademisi tidak memahami pesan bahwa semakin banyak artikel selalu semakin baik.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Quality & Quantity pada 2026 mengkaji pola retraction pada publikasi yang melibatkan peneliti berafiliasi Indonesia. Penelitian tersebut menempatkan persoalan integritas bersama hubungan erat antara publikasi dan kemajuan karier akademik sebagai isu yang perlu mendapat perhatian kebijakan.

Peningkatan jumlah karya tidak perlu dihentikan. Yang perlu dijaga adalah agar jumlah tidak mengalahkan proses penelitian.

Menurut penulis, universitas perlu memberi penghargaan lebih besar kepada penelitian yang membutuhkan waktu panjang tetapi menghasilkan data kuat, bukan hanya menghitung berapa artikel yang berhasil masuk basis indeks.

Peringkat Jurnal Tidak Bisa Menjadi Satu Satunya Ukuran

Scopus, Web of Science, SINTA, kuartil, SJR, serta Journal Impact Factor membantu akademisi menilai visibilitas sebuah jurnal. Sistem tersebut berguna, tetapi tidak dirancang untuk menggantikan penilaian terhadap isi artikel.

Jurnal Q1 dapat menerbitkan artikel yang kemudian harus diperbaiki atau ditarik. Sebaliknya, jurnal kecil yang dikelola dengan ketat dapat menerbitkan penelitian penting meskipun jumlah sitasinya belum tinggi.

Permasalahan muncul ketika ukuran jurnal dipindahkan langsung menjadi ukuran mutu semua artikel di dalamnya. Seorang peneliti kemudian terdorong mengejar nama jurnal lebih dahulu, baru memikirkan pertanyaan ilmiahnya.

Indeks juga dapat dimanipulasi melalui citation stacking, yaitu kelompok jurnal atau penulis saling meningkatkan sitasi dengan cara tidak wajar. Pada 2025, sejumlah jurnal kehilangan Impact Factor karena persoalan terkait sitasi. Retraction Watch mencatat kasus semacam ini menjadi salah satu isu besar dalam integritas penerbitan tahun tersebut.

Karena itu, evaluasi akademik sebaiknya turut menilai data, metode, kontribusi, keterbukaan bahan penelitian, serta bagaimana karya digunakan oleh peneliti lain.

Kecerdasan Buatan Membuat Produksi Artikel Semakin Mudah

Perkembangan kecerdasan buatan menambah lapisan baru dalam publikasi ilmiah. Perangkat AI dapat membantu menyunting bahasa, mencari pola data, membuat kode, atau menyusun struktur tulisan.

Masalah muncul ketika teknologi digunakan untuk membuat data yang tidak pernah dikumpulkan, menghasilkan referensi palsu, membuat gambar penelitian, atau memproduksi artikel dalam jumlah besar tanpa keterlibatan penelitian sebenarnya.

Paper mill memiliki insentif kuat menggunakan otomatisasi karena model bisnisnya bergantung pada volume. Semakin cepat naskah dapat dibuat, semakin banyak posisi kepengarangan dan paket penerbitan yang dapat dijual.

Editor kini harus memeriksa lebih dari sekadar plagiarisme teks. Mereka perlu melihat anomali gambar, kemiripan data antarartikel, referensi palsu, pola nama penulis, alamat surel reviewer, hingga keanehan statistik.

Proses ini meningkatkan biaya bagi jurnal yang benar benar ingin mempertahankan mutu. Penerbit harus berinvestasi pada tim integritas, perangkat pemeriksaan, serta penyelidikan setelah publikasi.

Model Open Access Tidak Boleh Dijadikan Kambing Hitam

Paper mill dan jurnal predator berkembang bersamaan dengan meningkatnya open access, tetapi keterbukaan akses tidak dapat dianggap sebagai penyebab tunggal.

Open access mempunyai manfaat besar karena pembaca tidak harus membayar untuk memperoleh artikel. Mahasiswa, dokter, guru, lembaga kecil, atau peneliti dari negara dengan anggaran perpustakaan terbatas dapat mengakses penelitian secara langsung.

Nature Portfolio menyatakan artikel open access tersedia segera untuk dibaca dan dapat digunakan kembali sesuai lisensi yang berlaku. Biaya penerbitan dapat ditanggung institusi atau lembaga pendanaan melalui APC.

Persoalannya berada pada model ketika pendapatan penerbit sangat bergantung pada jumlah artikel yang diterima sementara pengawasan editorial lemah. Konflik kepentingan dapat muncul karena penolakan artikel berarti kehilangan potensi pemasukan.

Penerbit bereputasi mencoba mengatasi persoalan tersebut dengan memisahkan keputusan editorial dari pembayaran. Jurnal predator melakukan kebalikannya karena transaksi menjadi tujuan utamanya.

Akademisi Perlu Memeriksa Jurnal Sebelum Mengirim Artikel

Memilih jurnal akhirnya menjadi bagian dari tanggung jawab penulis. Pemeriksaan tidak dapat hanya dilakukan setelah muncul masalah atau jurnal dikeluarkan dari indeks.

Nama editor dapat diperiksa melalui situs institusinya. Artikel terbitan terbaru perlu dilihat untuk mengetahui apakah bidangnya sesuai. Waktu antara penerimaan dan penerbitan juga memberi petunjuk mengenai proses editorial.

Penulis dapat memeriksa Scopus, Web of Science, SINTA, Scimago, DOI, serta kebijakan etika publikasi. Informasi biaya harus tersedia secara terbuka sebelum artikel dikirim atau diterima.

Undangan melalui surel perlu diperlakukan dengan hati hati apabila menggunakan pujian berlebihan, menjanjikan penerbitan beberapa hari, menawarkan posisi editor tanpa seleksi, atau meminta artikel dalam bidang yang jauh dari keahlian penerima.

Universitas juga tidak seharusnya menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada dosen dan mahasiswa. Institusi perlu mempunyai tim yang dapat membantu memeriksa jurnal, terutama ketika publikasi menjadi syarat kelulusan atau promosi jabatan.

Reformasi Penilaian Akademik Menjadi Bagian yang Tidak Bisa Ditunda

Pertarungan melawan bisnis publikasi bermasalah tidak cukup dengan membuat daftar jurnal predator. Penerbit dapat berganti nama, membeli jurnal lama, memindahkan situs, atau masuk ke jaringan indeks sebelum masalah ditemukan.

Perbaikan perlu dimulai dari sisi permintaan. Selama akademisi memperoleh keuntungan besar hanya karena berhasil menambah jumlah artikel, akan selalu ada pihak yang menawarkan cara tercepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Universitas dapat mengurangi ketergantungan pada hitungan artikel dengan memeriksa beberapa karya terbaik seorang dosen secara lebih mendalam. Data penelitian, perangkat lunak, buku, temuan lapangan, paten, kontribusi terhadap kebijakan, serta pengajaran berbasis riset dapat ikut dinilai.

Pendanaan publikasi juga perlu disertai pemeriksaan. Kampus tidak cukup mengganti biaya APC berdasarkan kuitansi. Status jurnal, mutu editorial, serta kesesuaian bidang perlu diverifikasi sebelum uang diberikan.

Kebijakan nasional mengenai akreditasi jurnal juga terus diperbarui. ARJUNA pada 2026 telah memuat aturan baru mengenai akreditasi jurnal ilmiah sebagai bagian dari upaya menjaga mekanisme penilaian publikasi nasional.

Pada akhirnya, uang akan selalu berada dalam ekosistem penerbitan ilmiah. Penelitian membutuhkan biaya, editor membutuhkan sistem, server perlu dipelihara, dan artikel harus disimpan dalam jangka panjang. Persoalan terbesar muncul ketika uang tidak lagi membiayai proses ilmiah, tetapi membeli jalan untuk melewatinya.

Selama gelar, promosi, insentif, dan reputasi tetap bergantung pada publikasi, pasar tersebut tidak akan hilang. Perguruan tinggi, pemerintah, penerbit, editor, dan peneliti perlu memastikan bahwa yang diperjualbelikan hanyalah layanan penerbitannya, bukan kepastian diterima, nama penulis, hasil penelitian, atau kredibilitas ilmu itu sendiri.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *