Gelombang PHK Berlabel AI, Puluhan Ribu Pekerja Jadi Korban Gelombang pemutusan hubungan kerja di berbagai perusahaan global kembali menjadi sorotan setelah semakin banyak manajemen menyebut kecerdasan buatan sebagai alasan perubahan besar dalam organisasi. Istilah efisiensi, otomasi, agen AI, produktivitas, dan penyederhanaan struktur kini sering muncul dalam pengumuman korporasi. Di balik bahasa bisnis yang terdengar rapi, ada puluhan ribu pekerja yang kehilangan posisi, dipindahkan ke peran baru, atau melihat lowongan lama tidak lagi dibuka karena sebagian pekerjaan dinilai bisa diambil alih sistem AI. Laporan Challenger, Gray and Christmas mencatat AI sudah menjadi salah satu alasan yang paling sering disebut dalam rencana pemangkasan tenaga kerja di Amerika Serikat. Pada Maret 2026 saja, AI tercatat memimpin alasan PHK dengan 15.341 rencana pemangkasan, sementara secara tahunan AI sudah masuk dalam puluhan ribu rencana pengurangan posisi sejak 2025.
AI Jadi Alasan Baru di Meja Direksi
Perusahaan teknologi, perbankan, ritel, media, layanan keuangan, dan perangkat lunak kini semakin terang terangan menyebut AI sebagai bagian dari penataan ulang tenaga kerja. Sebagian menyatakan AI membuat pekerjaan lebih cepat. Sebagian lain menyebut dana harus dialihkan dari posisi lama ke produk dan infrastruktur AI. Ada pula yang berhati hati dengan menyebut PHK sebagai restrukturisasi, meski di saat yang sama mereka memperbesar investasi kecerdasan buatan.
Bukan Lagi Sekadar Efisiensi Biasa
Pada masa sebelumnya, PHK sering dijelaskan dengan alasan perlambatan ekonomi, kelebihan rekrutmen, penurunan permintaan, atau penyesuaian biaya. Kini, AI mulai muncul sebagai alasan resmi. Data Challenger menunjukkan perusahaan di Amerika menyebut AI dalam puluhan ribu rencana pengurangan kerja, termasuk 54.836 rencana pada 2025 dan 12.304 rencana hanya dalam dua bulan pertama 2026.
Angka itu belum tentu berarti semua posisi benar benar digantikan mesin secara langsung. Namun, penyebutan AI dalam rencana PHK memperlihatkan cara baru perusahaan membaca tenaga kerja. Pekerjaan yang berulang, administratif, teknis dasar, layanan pelanggan, penulisan konten, analisis data awal, hingga sebagian proses pengembangan perangkat lunak mulai dilihat sebagai area yang dapat ditekan jumlah manusianya.
Perusahaan Mengalihkan Dana ke Mesin dan Model AI
Banyak perusahaan tidak hanya memotong karyawan, tetapi juga mengalihkan anggaran ke pusat data, model bahasa besar, perangkat lunak otomasi, layanan cloud, dan tim AI. Reuters mencatat sejumlah perusahaan global seperti Amazon, Dow, Autodesk, Allianz, Meta, HP, WiseTech, dan lainnya melakukan pemangkasan dengan alasan investasi beralih ke AI dan otomasi.
Perubahan ini membuat pekerja menghadapi dua tekanan sekaligus. Di satu sisi, posisi lama berkurang. Di sisi lain, posisi baru yang muncul menuntut kemampuan berbeda, seperti penguasaan data, pemanfaatan alat AI, keamanan sistem, dan pengawasan hasil kerja mesin.
Meta Pangkas Ribuan Pekerja Saat Berburu Superintelligence
Meta menjadi salah satu nama terbesar dalam gelombang pemangkasan tenaga kerja yang dikaitkan dengan AI. Perusahaan induk Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Threads itu sedang mengejar ambisi besar di bidang kecerdasan buatan, termasuk membangun laboratorium superintelligence dan infrastruktur komputasi raksasa.
Delapan Ribu Orang Disebut Terdampak
Business Insider melaporkan Meta melakukan restrukturisasi besar pada 2026, dengan sekitar 8.000 pekerja terkena PHK dan sekitar 7.000 pekerja lain dipindahkan ke unit yang berfokus pada AI. Perubahan itu dilakukan ketika CEO Mark Zuckerberg mendorong perusahaan bergerak lebih kuat ke arah AI dan membentuk tim baru seperti Applied AI, Agent Transformation Accelerator, serta Agent Data and Optimization.
Langkah Meta menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mempekerjakan talenta AI baru dari luar, tetapi juga memindahkan karyawan internal ke proyek yang dianggap lebih penting. Bagi yang terpilih masuk tim AI, perubahan ini bisa menjadi peluang. Bagi yang terkena PHK, perubahan tersebut menjadi tanda keras bahwa prioritas perusahaan sudah bergeser.
Investasi AI Dibayar dengan Perombakan Besar
The Times melaporkan bahwa pemangkasan di Meta berlangsung ketika belanja modal perusahaan untuk AI melonjak besar. Meta disebut meningkatkan investasi infrastruktur AI secara agresif dan menjadikan AI sebagai poros utama strategi perusahaan.
Bagi karyawan, situasinya tidak sederhana. Sebagian merasa lega karena dipindahkan ke unit AI. Sebagian lain khawatir karena tugas baru belum tentu sesuai keahlian lama. Di tengah perubahan cepat itu, stabilitas kerja menjadi semakin sulit ditebak.
Amazon dan Microsoft Ikut Menekan Jumlah Pekerja
Dua raksasa teknologi lain, Amazon dan Microsoft, juga masuk dalam daftar perusahaan yang memangkas pekerja ketika investasi AI terus diperbesar. Keduanya memiliki bisnis cloud dan AI yang sangat besar, sehingga perubahan organisasi mereka menjadi perhatian global.
Amazon Disebut Memangkas Belasan Ribu Pekerja
Reuters mencatat Amazon masuk dalam daftar perusahaan yang memangkas tenaga kerja saat investasi bergeser ke AI, dengan angka sekitar 16.000 pekerjaan disebut dalam laporan tersebut. Perusahaan ini sebelumnya juga telah melewati beberapa putaran pengurangan karyawan setelah masa rekrutmen besar selama pandemi.
Amazon tidak hanya bergerak di e commerce. Perusahaan juga memiliki AWS, salah satu penyedia cloud terbesar dunia, yang menjadi tulang punggung banyak layanan AI. Ketika perusahaan mengalihkan dana ke komputasi AI, posisi yang dianggap kurang mendukung prioritas baru menjadi lebih rentan.
Microsoft Tetap Besar di AI meski Mengurangi Tenaga Kerja
The Guardian melaporkan Microsoft memangkas sekitar 15.000 pekerja pada tahun sebelumnya, sementara perusahaan teknologi lain juga menekan jumlah pekerja saat pengeluaran untuk AI meningkat. Microsoft sendiri menjadi salah satu pemain paling agresif dalam AI melalui kemitraan dengan OpenAI, integrasi Copilot, dan perluasan layanan cloud.
Pola ini memperlihatkan bahwa perusahaan yang sedang menang di bidang AI pun tetap bisa mengurangi tenaga kerja. Pertumbuhan bisnis AI tidak otomatis berarti semua pekerja aman. Perusahaan justru memilih ulang bagian mana yang perlu manusia lebih banyak, dan bagian mana yang dapat dibuat lebih ramping.
Standard Chartered Pangkas Ribuan Posisi Back Office
AI tidak hanya mengubah perusahaan teknologi. Bank global Standard Chartered juga menyatakan rencana mengurangi ribuan posisi sebagai bagian dari penggunaan AI yang lebih luas.
Lebih dari Tujuh Ribu Posisi Akan Dikurangi
The Guardian melaporkan Standard Chartered berencana memangkas lebih dari 7.000 pekerjaan dalam empat tahun ke depan seiring peningkatan penggunaan AI. Angka tersebut berkaitan dengan pengurangan sekitar 15 persen tenaga kerja back office, atau sekitar 7.800 posisi dari total 52.000 pekerja di fungsi tersebut.
Pemangkasan terutama disebut menyasar fungsi pendukung di lokasi seperti Chennai, Bengaluru, Kuala Lumpur, dan Warsawa. Dalam bisnis perbankan, pekerjaan back office mencakup banyak proses administratif, pemrosesan data, kepatuhan, pelaporan, dan dukungan operasional yang sebagian dapat dipercepat melalui otomasi.
Bank Mulai Lebih Terbuka Soal AI
CEO Standard Chartered Bill Winters menyebut pergeseran ini bukan sekadar pengurangan biaya, melainkan pemindahan sumber daya dari pekerjaan bernilai lebih rendah ke investasi teknologi. Pernyataan tersebut menjadi contoh bagaimana sektor keuangan mulai lebih terbuka menyebut AI sebagai alasan perubahan jumlah tenaga kerja.
Sektor perbankan selama ini sangat bergantung pada proses, dokumen, verifikasi, dan pengelolaan risiko. Karena itu, AI dapat masuk ke banyak lini. Namun, perbankan juga menuntut pengawasan ketat karena kesalahan sistem dapat menyangkut dana nasabah, kepatuhan hukum, dan reputasi lembaga.
Block, HP, Autodesk, dan WiseTech Ikut Masuk Daftar
Gelombang pemangkasan tidak berhenti pada nama besar seperti Meta, Amazon, atau Microsoft. Reuters mencatat sejumlah perusahaan lain juga melakukan pengurangan tenaga kerja sambil menata ulang investasi ke AI dan otomasi.
Block Disebut Menghapus Lebih dari Empat Ribu Posisi
The Guardian melaporkan Block memangkas lebih dari 4.000 pekerja, atau sekitar 40 persen tenaga kerjanya, pada Februari. Perusahaan yang bergerak di layanan pembayaran digital itu menjadi salah satu contoh perusahaan keuangan teknologi yang menekan jumlah pekerja sambil menata kembali prioritas bisnis.
Perusahaan pembayaran sangat dekat dengan data, layanan pelanggan, analisis risiko, deteksi penipuan, dan pemrosesan transaksi. Banyak bagian tersebut kini semakin banyak dibantu AI, sehingga kebutuhan pada tenaga kerja di beberapa fungsi dapat berubah cepat.
HP, Autodesk, Dow, dan WiseTech Juga Melakukan Pemangkasan
Reuters mencatat HP berencana memangkas 4.000 sampai 6.000 pekerjaan hingga 2028, Autodesk memangkas sekitar 1.000 posisi, Dow mengurangi sekitar 4.500 pekerjaan, dan WiseTech berencana memangkas sekitar 2.000 pekerja atau hampir sepertiga tenaga kerja globalnya.
Daftar tersebut memperlihatkan bahwa AI tidak hanya menjadi urusan perusahaan perangkat lunak. Produsen perangkat keras, perusahaan kimia, logistik, dan penyedia perangkat bisnis juga memakai alasan otomasi dan teknologi untuk mengatur ulang struktur tenaga kerja.
Salesforce dan GitLab Menjadi Contoh dari Dunia Software
Perusahaan perangkat lunak menghadapi tekanan yang lebih tajam karena AI langsung menyentuh cara produk mereka dibuat. Pengembang, analis data, manajer produk, tim pemasaran, dan dukungan pelanggan kini melihat sebagian tugasnya dapat dibantu atau digantikan alat AI.
Salesforce Pangkas Pekerja Saat Agentforce Didorong
Reuters melaporkan Salesforce memangkas kurang dari 1.000 pekerjaan pada Februari 2026. Peran yang terdampak mencakup pemasaran, manajemen produk, analisis data, dan unit Agentforce AI.
Business Insider juga melaporkan CEO Salesforce Marc Benioff sebelumnya mengatakan penggunaan agen AI membantu mengurangi tim dukungan pelanggan dari sekitar 9.000 menjadi 5.000 orang.
Salesforce menjadi contoh yang menarik karena perusahaan tidak hanya menjual AI kepada pelanggan, tetapi juga menggunakannya untuk mengubah cara kerja internal. Saat perusahaan memasarkan produk AI sebagai penghemat biaya, mereka juga menghadapi pertanyaan tentang nasib karyawan sendiri.
GitLab Menata Ulang Organisasi untuk Agen AI
GitLab mengumumkan restrukturisasi lewat surat terbuka CEO Bill Staples pada Mei 2026. Perusahaan membuka jalur pemisahan sukarela, menyederhanakan lapisan manajemen, mengurangi kehadiran di negara dengan tim kecil, dan menyusun ulang R&D menjadi sekitar 60 tim kecil. GitLab menyebut penghematan dari perubahan ini akan banyak diinvestasikan kembali untuk mempercepat peluang di era agen AI.
GitLab tidak langsung mengumumkan angka final karyawan terdampak saat surat itu dirilis. Namun, arah perubahannya jelas. Perusahaan ingin perangkat kerja pengembang siap menghadapi masa ketika AI dapat menulis kode, membuka permintaan perubahan, menjalankan uji, dan memperbaiki kesalahan dengan pengawasan manusia.
Klarna dan Duolingo Jadi Contoh Kontroversial
Tidak semua perusahaan melakukan PHK massal dalam format yang sama. Ada yang mengurangi posisi lewat attrition atau tidak mengganti pekerja yang keluar. Ada juga yang memangkas pekerja kontrak karena sebagian pekerjaan sudah dipindahkan ke AI.
Klarna Mengurangi Jumlah Pekerja lewat AI dan Attrition
Reuters melaporkan Klarna mengurangi jumlah karyawan dari 5.000 menjadi 3.800 dalam setahun, terutama melalui attrition. Perusahaan menyatakan asisten AI mereka mengerjakan pekerjaan setara 700 karyawan dalam layanan pelanggan dan mempercepat penyelesaian masalah dari rata rata 11 menit menjadi 2 menit.
The Guardian kemudian melaporkan jumlah karyawan Klarna turun lebih jauh dari 5.527 pada 2022 menjadi 2.907 pada 2025. Perusahaan menyebut teknologi kini menangani ratusan peran penuh waktu.
Klarna menjadi contoh yang sering dikutip karena perusahaan secara terbuka memakai AI untuk memangkas kebutuhan tenaga kerja dalam layanan pelanggan. Namun, kasus ini juga memunculkan perdebatan, terutama mengenai kualitas layanan, kepuasan pelanggan, dan kebutuhan manusia dalam percakapan yang rumit.
Duolingo Kurangi Kontraktor
TechCrunch melaporkan Duolingo memotong sekitar 10 persen tenaga kontraktor pada akhir 2023 dan ada putaran pengurangan lain pada Oktober 2024. Dalam laporan tersebut, kontraktor yang mengerjakan terjemahan dan penulisan disebut terdampak karena sebagian pekerjaan mulai digantikan AI.
Duolingo kemudian menjadi salah satu nama yang sering disebut dalam pembahasan AI dan pekerjaan kreatif. Perusahaan bahasa tersebut memakai AI untuk mempercepat produksi konten belajar, tetapi keputusan terhadap kontraktor membuat banyak orang mempertanyakan batas aman antara efisiensi dan perlindungan pekerja.
IBM Memilih Tidak Mengisi Posisi yang Kosong
IBM menjadi contoh lain yang sering dikaitkan dengan AI dan pengurangan posisi. Perusahaan ini tidak selalu menjelaskan langkahnya sebagai PHK langsung, tetapi sebagai penghentian perekrutan untuk peran tertentu.
Ribuan Posisi Back Office Berpotensi Tidak Diisi Lagi
Business Insider melaporkan CEO IBM Arvind Krishna pernah menyatakan sekitar 7.800 pekerjaan back office dapat digantikan AI dan otomasi dalam lima tahun. Perusahaan menyebut posisi yang kosong karena attrition tidak akan diisi kembali untuk peran tertentu.
Cara ini terlihat lebih halus dibanding PHK langsung. Namun, hasil akhirnya tetap sama bagi pasar kerja. Jumlah peran manusia dalam fungsi tertentu menurun, sementara pekerjaan yang tersisa berubah menjadi lebih banyak mengawasi sistem dan memecahkan masalah yang tidak dapat ditangani mesin.
HR dan Fungsi Non Pelanggan Paling Rentan
Peran seperti sumber daya manusia, administrasi, dokumentasi internal, dan tugas non pelanggan disebut sebagai area yang lebih mudah terkena otomasi. IBM tetap membutuhkan pekerja teknis dan AI, tetapi jenis pekerjaan yang dicari tidak sama dengan posisi yang ditinggalkan.
Pola ini banyak ditiru perusahaan lain. Mereka tidak selalu mengumumkan PHK besar, tetapi perlahan menutup pintu perekrutan untuk pekerjaan lama.
Apakah Semua PHK Benar Benar Karena AI
Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah perusahaan memang mengganti manusia dengan AI, atau sekadar memakai AI sebagai alasan untuk pengurangan biaya yang sudah lama direncanakan. Harvard Business Review menulis bahwa beberapa perusahaan melakukan PHK karena potensi AI, bukan karena sistem AI mereka sudah terbukti sepenuhnya menggantikan manusia.
AI Bisa Menjadi Alasan yang Mudah Dijual
Bagi investor, cerita AI terdengar menarik. Perusahaan yang mengatakan sedang merampingkan organisasi untuk menjadi lebih AI first sering terlihat lebih modern. Pasar saham kadang memberi penghargaan pada janji produktivitas, meski pekerja yang terdampak merasakan sisi pahitnya.
Namun, penggunaan AI sebagai alasan juga berisiko. Jika perusahaan memangkas terlalu cepat dan sistem belum matang, kualitas layanan dapat turun. Pelanggan bisa kesulitan mendapat bantuan manusia, produk bisa lebih banyak salah, dan beban pekerja yang tersisa bisa meningkat.
Tidak Semua Pekerjaan Bisa Dihapus
AI sangat kuat untuk tugas berulang, pengolahan data, ringkasan dokumen, bantuan menulis kode, dan layanan pelanggan dasar. Namun, pekerjaan yang memerlukan empati, keputusan rumit, tanggung jawab hukum, negosiasi, kreativitas mendalam, dan pemahaman situasi manusia tetap membutuhkan pekerja berpengalaman.
Perusahaan yang terlalu cepat memangkas pekerja dapat kehilangan pengetahuan internal. Pengalaman karyawan lama sering tidak tertulis dalam sistem. Ketika mereka pergi, organisasi bisa kehilangan cara menyelesaikan masalah yang hanya muncul di kondisi tertentu.
Pekerja Harus Menghadapi Standar Baru
Gelombang PHK berlabel AI menandai perubahan besar dalam standar kerja. Karyawan tidak hanya diminta bekerja lebih cepat, tetapi juga diminta mampu memakai alat AI sebagai bagian dari pekerjaan harian.
Keahlian Lama Perlu Diperbarui
Pekerja administrasi, layanan pelanggan, pemasaran, media, pengembang perangkat lunak, analis data, dan staf operasi kini perlu memahami alat AI yang sesuai bidangnya. Bukan berarti semua orang harus menjadi ilmuwan data. Namun, kemampuan memberi instruksi pada alat AI, memeriksa hasil, menjaga etika, dan menghindari kesalahan menjadi semakin penting.
Perusahaan cenderung mempertahankan pekerja yang mampu menghasilkan nilai lebih tinggi dengan bantuan AI. Sebaliknya, pekerjaan yang dapat dilakukan mesin tanpa banyak pengawasan menjadi lebih rentan.
Beban Pekerja yang Bertahan Bisa Bertambah
PHK sering membuat pekerja yang bertahan memikul tugas tambahan. Jika perusahaan berharap AI menutup kekosongan, tetapi alatnya belum matang, beban manusia dapat meningkat. Mereka harus menyelesaikan pekerjaan sendiri sambil memperbaiki keluaran AI.
Masalah ini jarang terlihat dalam pengumuman resmi perusahaan. Di dalam organisasi, pekerja bisa menghadapi target lebih tinggi, jumlah tim lebih kecil, dan tuntutan menguasai alat baru dalam waktu singkat.
Pemerintah dan Pendidikan Perlu Mengejar Perubahan
Gelombang PHK yang dikaitkan dengan AI menunjukkan perlunya pelatihan ulang tenaga kerja dalam skala besar. Jika tidak, pekerja dari banyak sektor dapat tertinggal karena perubahan bergerak lebih cepat daripada kurikulum dan program pelatihan.
Pelatihan Tidak Bisa Hanya untuk Pekerja Teknologi
AI tidak hanya menyentuh programmer. Layanan pelanggan, akuntansi, logistik, pemasaran, sumber daya manusia, media, pendidikan, hukum, dan perbankan juga berubah. Program pelatihan perlu menjangkau pekerja non teknis, termasuk kemampuan memakai alat AI secara aman dan bertanggung jawab.
Pekerja perlu diajari bukan hanya cara memakai AI, tetapi juga cara memeriksa hasilnya. Kesalahan AI dapat merugikan pelanggan, perusahaan, dan pekerja itu sendiri.
Perlindungan Pekerja Perlu Lebih Jelas
Negara perlu memperhatikan bagaimana perusahaan memakai AI sebagai alasan PHK. Transparansi menjadi penting. Perusahaan sebaiknya menjelaskan fungsi mana yang berubah, pelatihan apa yang disediakan, dan bantuan apa yang diberikan kepada pekerja terdampak.
Tanpa aturan yang jelas, AI dapat menjadi alasan umum untuk memangkas pekerja tanpa tanggung jawab sosial yang memadai. Padahal, banyak pekerja sudah membantu perusahaan membangun bisnis bertahun tahun sebelum teknologi baru datang.
Puluhan Ribu Pekerja Jadi Tanda Zaman Baru
Dari Meta, Amazon, Microsoft, Standard Chartered, Block, Salesforce, GitLab, IBM, Klarna, Duolingo, HP, Autodesk, Dow, hingga WiseTech, pola yang tampak semakin mirip. Perusahaan ingin lebih ramping, lebih cepat, dan lebih AI first. Sebagian pekerja dipindahkan. Sebagian tidak lagi dibutuhkan. Sebagian posisi lama dibiarkan kosong setelah orang keluar.
Korban Terbesar Ada pada Pekerjaan Berulang
Pekerjaan yang paling mudah dihantam adalah pekerjaan yang polanya jelas, datanya tersedia, dan hasilnya bisa dinilai otomatis. Layanan pelanggan dasar, pengolahan dokumen, penulisan konten standar, terjemahan sederhana, analisis awal, pengujian rutin, dan sebagian administrasi masuk dalam kelompok ini.
Namun, angka PHK yang besar juga menunjukkan bahwa perubahan tidak hanya menyasar pekerja level bawah. Manajer, analis, teknisi, dan pekerja profesional pun bisa terdampak ketika struktur organisasi dipangkas.
AI Menjadi Alat, Tetapi Keputusan Tetap dari Manusia
Meski banyak perusahaan menyebut AI, keputusan memecat karyawan tetap dibuat manusia di ruang rapat direksi. AI menjadi alasan, alat, atau strategi, tetapi yang menentukan jumlah pekerja adalah manajemen. Karena itu, pembahasan PHK berlabel AI tidak boleh berhenti pada kecanggihan teknologi. Yang perlu dilihat adalah pilihan bisnis, prioritas investasi, perlindungan pekerja, dan kesiapan masyarakat menghadapi perubahan kerja yang makin cepat.


Comment