Kripto Tak Cuma Butuh Developer, Compliance dan Marketing Jadi Rebutan Industri kripto selama ini kerap digambarkan sebagai ruang kerja yang hanya terbuka bagi programmer, pengembang blockchain, dan insinyur keamanan siber. Anggapan tersebut mulai tertinggal karena perusahaan aset digital kini membutuhkan tim yang jauh lebih beragam untuk menjaga operasional, memenuhi ketentuan regulator, melayani konsumen, serta membangun bisnis yang dapat dipercaya.
CEO Upbit Indonesia Resna Raniadi menyebut perusahaan kripto tidak hanya mencari tenaga dengan kemampuan teknis. Kebutuhan telah meluas ke bidang compliance, audit, hukum, keuangan, pemasaran, manajemen risiko, pengembangan bisnis, dan customer experience. Pengalaman profesional dari perbankan, perusahaan teknologi, audit, perdagangan, serta jasa keuangan juga dapat menjadi modal yang relevan untuk memasuki industri aset digital.
Perubahan kebutuhan tenaga kerja terjadi ketika industri kripto Indonesia telah memasuki skala yang semakin besar. Hingga Juni 2026, Otoritas Jasa Keuangan mencatat jumlah investor kripto mencapai 22,69 juta orang. Nilai transaksi selama bulan tersebut mencapai Rp28,58 triliun, sementara 32 entitas telah memperoleh izin dalam ekosistem perdagangan aset kripto. Jumlah itu terdiri atas dua bursa, dua lembaga kliring, dua pengelola tempat penyimpanan, serta 26 pedagang aset keuangan digital.
Industri Kripto Memasuki Tahap Operasi yang Lebih Rumit
Pertumbuhan jumlah investor membuat perusahaan tidak cukup hanya menyediakan aplikasi yang dapat digunakan untuk membeli dan menjual aset. Mereka juga harus memastikan dana konsumen tercatat dengan benar, transaksi diawasi, keluhan ditangani, informasi produk disampaikan secara jujur, dan laporan kepada regulator dikirim sesuai jadwal.
Pengawasan aset kripto di Indonesia telah beralih dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi kepada OJK sejak 10 Januari 2025. Peralihan tersebut menempatkan aset kripto dalam pengawasan sektor jasa keuangan yang lebih terintegrasi, termasuk pada aspek perizinan, tata kelola, pelindungan konsumen, pemeriksaan, serta penegakan ketentuan.
Perusahaan kripto kemudian membutuhkan orang yang dapat menerjemahkan peraturan menjadi prosedur kerja. Tugas tersebut tidak dapat seluruhnya diserahkan kepada developer. Sistem teknologi memang dapat mengotomatisasi pemeriksaan, tetapi manusia tetap diperlukan untuk menilai transaksi mencurigakan, menjawab pertanyaan regulator, menyusun kebijakan internal, dan mengambil keputusan ketika muncul kasus yang tidak dapat diselesaikan oleh mesin.
โMenurut penulis, perusahaan kripto yang hanya kuat dalam teknologi akan tetap rapuh apabila tidak memiliki tim kepatuhan, pengelolaan risiko, dan pelayanan konsumen yang seimbang.โ
Developer Tetap Penting sebagai Pembangun Infrastruktur
Developer masih memegang posisi penting karena perdagangan aset digital bergantung pada sistem teknologi yang beroperasi sepanjang waktu. Mereka membangun aplikasi, mesin pencocokan transaksi, sistem dompet, antarmuka pengguna, penghubung perbankan, serta berbagai fitur keamanan.
Keahlian teknis juga diperlukan untuk menjaga stabilitas ketika volume transaksi meningkat tajam. Kesalahan kecil pada kode dapat menghambat penyetoran dana, membuat informasi saldo terlambat muncul, atau mengganggu proses penarikan aset.
Namun, sistem yang berfungsi secara teknis belum tentu telah memenuhi seluruh kewajiban. Sebuah fitur penarikan, misalnya, perlu mengikuti prosedur pemeriksaan alamat, keamanan akun, batas transaksi, dan ketentuan kepatuhan. Upbit dalam dokumentasi layanan globalnya menerapkan pendaftaran alamat penarikan serta verifikasi pihak penerima untuk memenuhi ketentuan perjalanan informasi transaksi.
Developer perlu bekerja bersama tim compliance, hukum, produk, dan keamanan. Tim hukum menjelaskan aturan, compliance menentukan prosedur, pengembang mengubahnya menjadi fungsi aplikasi, sedangkan audit memeriksa apakah sistem bekerja sesuai rancangan.
Compliance Menjadi Posisi yang Semakin Dibutuhkan
Compliance bertugas memastikan seluruh kegiatan perusahaan berjalan sesuai izin dan peraturan. Pekerja di bidang ini harus memahami ketentuan OJK, pencegahan pencucian uang, verifikasi konsumen, pemantauan transaksi, pelaporan, serta tata cara menghadapi pemeriksaan regulator.
Kebutuhan tersebut meningkat seiring bertambahnya kewajiban pelaporan. Peraturan Anggota Dewan Komisioner OJK Nomor 3 Tahun 2026 mengatur penyampaian laporan hasil evaluasi aset, laporan bulanan, triwulanan, tahunan, penilaian mandiri manajemen risiko, serta laporan insidental. Aturan itu ditetapkan pada 30 Juni 2026 dan mulai berlaku pada 1 September 2026.
Tim compliance perlu mengumpulkan data dari berbagai bagian perusahaan sebelum laporan dikirimkan. Mereka berkoordinasi dengan keuangan, teknologi, keamanan, layanan pelanggan, audit, dan manajemen.
Kesalahan pelaporan bukan sekadar masalah administrasi. Data yang tidak tepat dapat membuat perusahaan kesulitan menjelaskan posisi dana konsumen, jumlah transaksi, gangguan sistem, atau temuan internal. Karena itu, tenaga compliance harus memiliki ketelitian tinggi, keberanian menyampaikan masalah, serta kemampuan berkomunikasi dengan banyak bagian.
Manajemen Risiko Membaca Ancaman Sebelum Menjadi Kerugian
Perusahaan aset digital menghadapi risiko pasar, operasional, teknologi, likuiditas, hukum, reputasi, dan keamanan. Manajemen risiko bertugas mengidentifikasi kemungkinan gangguan serta menyiapkan langkah pengendalian sebelum masalah membesar.
Risiko operasional dapat muncul ketika sistem tidak dapat diakses, bank mengalami gangguan, prosedur internal tidak dijalankan, atau terjadi kesalahan pencatatan. Risiko likuiditas muncul ketika perusahaan kesulitan memenuhi permintaan penarikan dalam waktu yang dibutuhkan.
Tenaga manajemen risiko perlu membuat batas, indikator peringatan, dan rencana pemulihan. Mereka juga menguji apakah perusahaan mampu tetap melayani pengguna ketika terjadi lonjakan aktivitas atau gangguan pada salah satu mitra.
Pengalaman dari bank, perusahaan pembayaran, asuransi, pasar modal, dan perusahaan teknologi dapat diterapkan pada posisi ini. Profesional tetap perlu mempelajari sifat transaksi blockchain, penyimpanan aset digital, pergerakan harga, dan struktur perdagangan yang berbeda dari instrumen keuangan biasa.
Audit Memastikan Aturan Benar Benar Dijalankan
Perusahaan dapat memiliki puluhan prosedur tertulis, tetapi dokumen tidak menjamin seluruh pegawai menjalankannya. Auditor internal memeriksa apakah pelaksanaan di lapangan sesuai dengan aturan perusahaan dan kewajiban regulator.
Pemeriksaan dapat mencakup akses terhadap sistem, pemisahan tugas, rekonsiliasi aset, pencatatan transaksi, penanganan keluhan, pemberian promosi, serta pengamanan data konsumen. Auditor juga menilai apakah temuan sebelumnya telah diperbaiki.
Posisi audit membutuhkan sikap independen. Auditor tidak boleh menutup temuan hanya karena melibatkan bagian yang mempunyai target bisnis tinggi. Mereka harus menjelaskan tingkat risiko dan memberikan rekomendasi yang dapat dilaksanakan.
Latar belakang akuntansi, audit teknologi informasi, perbankan, atau pemeriksaan kepatuhan dapat menjadi modal kuat. Pemahaman blockchain diperlukan agar auditor mampu membaca aliran aset dan membedakan transaksi normal dengan kejadian yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
Tim Hukum Menerjemahkan Regulasi Menjadi Perjanjian
Pekerjaan hukum di perusahaan kripto tidak hanya berkaitan dengan sengketa. Tim legal terlibat sejak penyusunan produk, kerja sama dengan mitra, perizinan, pemasaran, hingga perlindungan data pribadi.
Setiap fitur baru perlu diperiksa untuk mengetahui apakah dapat diluncurkan berdasarkan izin yang dimiliki. Perjanjian dengan bank, penyedia teknologi, perusahaan penyimpanan, dan mitra pemasaran juga harus membagi tanggung jawab secara jelas.
Tim hukum turut menyiapkan syarat penggunaan aplikasi, kebijakan privasi, penanganan permintaan aparat, serta jawaban atas keberatan konsumen. Ketika peraturan berubah, mereka perlu menjelaskan bagian kontrak dan prosedur yang harus disesuaikan.
Profesional hukum yang berasal dari perbankan, teknologi finansial, pasar modal, telekomunikasi, atau perlindungan data memiliki dasar yang relevan. Tantangannya adalah mengikuti perkembangan aturan aset digital yang bergerak cepat dan melibatkan teknologi yang belum selalu dikenal dalam pendidikan hukum umum.
Finance Menjaga Pencatatan Dana Tetap Akurat
Perusahaan kripto memproses aliran uang dan aset digital dalam jumlah besar. Tim keuangan bertugas memastikan pemasukan, biaya, pajak, kewajiban, serta transaksi perusahaan tercatat secara benar.
Pencatatan tidak selalu sederhana karena terdapat perbedaan antara dana milik perusahaan dan dana konsumen. Keduanya tidak boleh tercampur tanpa dasar yang sah. Rekonsiliasi perlu dilakukan untuk mencocokkan catatan internal dengan rekening bank, dompet aset digital, serta data pada sistem perdagangan.
Tim finance juga menyusun anggaran, laporan manajemen, pembayaran kepada pemasok, penggajian, dan perencanaan arus kas. Mereka harus bekerja bersama auditor serta compliance ketika regulator meminta data.
Perusahaan juga membutuhkan tenaga treasury untuk mengatur kebutuhan likuiditas. Tugasnya bukan melakukan spekulasi, melainkan memastikan kewajiban perusahaan dapat dipenuhi dan aset tersedia pada tempat yang tepat ketika konsumen melakukan penarikan.
Marketing Tidak Bisa Sekadar Mengejar Pengguna Baru
Pemasaran kripto pernah dikenal melalui promosi agresif, hadiah pendaftaran, kampanye media sosial, serta penggunaan tokoh internet. Pola tersebut kini membutuhkan pengawasan lebih ketat karena aset kripto memiliki risiko harga tinggi dan dapat menimbulkan kerugian bagi konsumen yang tidak memahami produknya.
OJK menerbitkan Peraturan Nomor 6 Tahun 2026 mengenai perilaku penyampai informasi sektor jasa keuangan. Informasi harus disampaikan secara jelas, akurat, jujur, mudah diakses, dan tidak menyesatkan. Pelaku usaha jasa keuangan juga memegang tanggung jawab atas informasi yang disampaikan oleh pihak yang bekerja sama dalam kegiatan pemasaran.
Aturan itu membuat tenaga marketing harus memahami batas antara edukasi, iklan, dan rekomendasi. Kalimat promosi perlu diperiksa agar tidak menjanjikan keuntungan, menyembunyikan risiko, atau membuat konsumen mengira harga aset pasti naik.
Pemasar juga perlu mengetahui produk secara memadai. Mereka tidak cukup hanya menguasai pembuatan kampanye. Informasi mengenai biaya transaksi, risiko volatilitas, ketentuan penarikan, keamanan akun, dan legalitas platform harus disampaikan secara benar.
Customer Experience Menjaga Kepercayaan Konsumen
Pengguna sering berhubungan dengan perusahaan melalui tim customer experience ketika mengalami masalah. Pertanyaannya dapat berkaitan dengan verifikasi identitas, penyetoran rupiah, penarikan aset, akun terkunci, perubahan nomor telepon, atau transaksi yang belum selesai.
Petugas harus mampu menjelaskan persoalan dengan bahasa sederhana tanpa membocorkan data pribadi. Mereka juga harus mengenali laporan yang membutuhkan penanganan cepat, seperti dugaan pengambilalihan akun atau penipuan.
Pekerjaan ini memerlukan kesabaran, ketelitian, dan pemahaman produk. Jawaban yang terlalu umum dapat membuat konsumen semakin bingung, sedangkan janji yang tidak dapat dipenuhi berisiko merusak kepercayaan.
Data keluhan juga berguna bagi perusahaan. Apabila banyak pengguna mengalami masalah yang sama, tim produk dan teknologi perlu memperbaiki sistem. Customer experience kemudian berfungsi sebagai penghubung antara konsumen dan bagian internal.
Product Manager Menyatukan Teknologi dan Kebutuhan Pasar
Product manager menentukan fitur yang perlu dibuat, masalah pengguna yang hendak diselesaikan, dan urutan pengembangan. Posisi ini berada di antara teknologi, bisnis, compliance, keamanan, dan pelayanan konsumen.
Sebuah fitur baru mungkin terlihat menarik bagi pengguna, tetapi belum tentu dapat diluncurkan karena belum memenuhi ketentuan. Product manager perlu memahami batas tersebut sebelum pekerjaan pengembangan dimulai.
Ia juga mengukur penggunaan fitur, kegagalan proses, keluhan konsumen, dan kebutuhan perbaikan. Keputusan tidak boleh hanya mengikuti tren. Produk harus memiliki tujuan yang jelas serta dapat dijalankan dengan aman.
Pengalaman dari perusahaan teknologi, perbankan digital, pembayaran, perdagangan elektronik, atau aplikasi konsumen dapat digunakan. Pengetahuan blockchain tetap dibutuhkan agar keputusan produk tidak bertentangan dengan cara kerja aset digital.
Pengembangan Bisnis Membuka Kerja Sama Baru
Business development bertugas mencari kemitraan yang dapat memperkuat layanan. Mitranya dapat berupa bank, perusahaan pembayaran, penyedia keamanan, perguruan tinggi, komunitas, atau perusahaan teknologi.
Pekerjaan ini tidak berhenti pada penandatanganan kerja sama. Setiap kemitraan perlu memiliki sasaran, pembagian tugas, ukuran keberhasilan, dan pengawasan.
Tenaga pengembangan bisnis juga perlu memeriksa reputasi calon mitra. Kerja sama dengan pihak bermasalah dapat menimbulkan risiko hukum dan merusak kepercayaan pengguna.
Kemampuan bernegosiasi menjadi penting, tetapi pemahaman regulasi tidak boleh diabaikan. Kesepakatan yang menarik secara komersial dapat gagal dijalankan apabila tidak sesuai dengan izin perusahaan atau ketentuan regulator.
Profesional Industri Lama Punya Peluang Beralih
Pernyataan Upbit Indonesia membuka peluang bagi pekerja dari berbagai sektor. Petugas compliance bank dapat berpindah ke perusahaan kripto setelah mempelajari struktur perdagangan aset digital. Auditor dapat memperluas kemampuan ke pemeriksaan dompet dan sistem transaksi.
Pekerja pemasaran dapat membawa pengalaman membangun merek, sedangkan petugas layanan pelanggan dapat menggunakan kemampuan menangani keluhan. Pengacara perusahaan dapat mempelajari perizinan aset digital, kontrak teknologi, dan perlindungan data.
Pengalaman lama tetap bernilai, tetapi tidak dapat digunakan tanpa penyesuaian. Resna Raniadi menekankan pentingnya pembelajaran berkelanjutan karena blockchain, Web3, dan aset digital terus mengalami perubahan teknologi serta aturan.
โPeluang terbesar tidak hanya dimiliki orang yang sudah memahami seluruh istilah kripto, tetapi juga profesional yang bersedia belajar tanpa meninggalkan disiplin kerja dari bidang sebelumnya.โ
Pengetahuan Dasar Kripto Tetap Wajib Dipelajari
Profesional nonteknologi tidak harus mampu menulis kode, tetapi perlu memahami dasar industri. Mereka harus mengetahui perbedaan aset digital dengan uang rupiah, cara kerja dompet, fungsi jaringan blockchain, dan alasan transaksi tertentu tidak mudah dibatalkan.
Pemahaman mengenai bursa, pedagang aset keuangan digital, lembaga kliring, serta tempat penyimpanan juga diperlukan. Pengetahuan tersebut membantu pegawai memahami posisi perusahaannya dalam rantai perdagangan.
Tenaga pemasaran perlu mengetahui produk yang dipromosikan. Petugas hukum harus memahami bagaimana aset berpindah. Tim risiko perlu mengetahui titik kegagalan, sedangkan layanan pelanggan harus mampu menjelaskan proses kepada pengguna.
Pembelajaran dapat dilakukan melalui pelatihan, materi regulator, komunitas profesional, serta program pendidikan perusahaan. OJK dan Bank Indonesia pada Februari 2026 juga menginisiasi Pusat Inovasi Digital Indonesia untuk memperkuat pengembangan talenta digital, tata kelola, manajemen risiko, dan pelindungan konsumen di sektor keuangan.
Perusahaan Membutuhkan Tim yang Saling Mengawasi
Industri kripto tidak dapat dibangun oleh satu jenis profesi. Developer membangun sistem, compliance memastikan kesesuaiannya, tim hukum memeriksa dasar aturan, finance mencatat aliran dana, audit menguji pelaksanaan, marketing menyampaikan informasi, dan customer experience menangani kebutuhan pengguna.
Setiap bagian juga berfungsi mengawasi bagian lain. Marketing tidak boleh meluncurkan promosi tanpa pemeriksaan compliance. Developer tidak seharusnya mengaktifkan fitur sebelum keamanan diuji. Business development perlu meminta penilaian legal sebelum menandatangani kerja sama.
Pembagian tersebut dapat memperlambat peluncuran fitur, tetapi mengurangi kemungkinan kesalahan besar. Kecepatan tetap diperlukan, namun perusahaan harus mengetahui risiko yang sedang diambil.
Pertumbuhan investor hingga puluhan juta orang membuat kesalahan perusahaan tidak lagi hanya menjadi persoalan internal. Gangguan layanan, promosi menyesatkan, atau pencatatan yang buruk dapat merugikan banyak konsumen sekaligus.
Rekrutmen Kripto Akan Semakin Menilai Kemampuan Campuran
Perusahaan kemungkinan mencari kandidat yang mempunyai keahlian utama sekaligus pemahaman lintas bidang. Tenaga marketing yang mengerti aturan akan lebih mudah bekerja dengan compliance. Auditor yang memahami sistem informasi dapat memeriksa proses dengan lebih tajam.
Kemampuan bahasa Inggris juga berguna karena dokumentasi teknologi, laporan keamanan, dan perkembangan industri banyak diterbitkan secara global. Kemampuan menulis menjadi penting untuk menyusun laporan, kebijakan, materi edukasi, serta jawaban kepada regulator.
Sikap kritis dibutuhkan karena industri ini bergerak cepat dan dipenuhi klaim. Pekerja harus mampu membedakan informasi yang telah diperiksa dengan kabar yang hanya ramai di media sosial.
Peluang karier akhirnya tidak hanya terbuka bagi lulusan ilmu komputer. Sarjana hukum, akuntansi, manajemen, komunikasi, psikologi, statistik, hubungan internasional, dan berbagai disiplin lain dapat mengambil peran selama bersedia memahami teknologi serta aturan yang mendasarinya.
Kebutuhan terhadap compliance hingga marketing menunjukkan perubahan besar dalam industri kripto Indonesia. Perusahaan tidak lagi cukup dinilai dari kecepatan aplikasi atau jumlah aset yang tersedia. Kemampuan menjaga dana, mematuhi aturan, melayani konsumen, menyampaikan informasi dengan jujur, dan membangun organisasi yang sehat kini menjadi bagian utama dari persaingan.


Comment